NPM : 12213877
Kelas : 3EA28
Dosen : Tomy Adi Sumiarso,SE
PERILAKU KONSUMEN
PENGERTIAN BUDAYA
Budaya atau kebudayaan
berasal dari bahasa Sanskerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari
buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi
dan akal manusia. Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut culture, yang
berasal dari kata Latin, Colere. Artinya yaitu mengolah atau mengerjakan dan
bisa diartikan juga sebagai mengolah tanah atau bertani. Kata culture juga kadang
diterjemahkan sebagai “kultur” dalam bahasa Indonesia.
Definisi budaya adalah
suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok
orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak
unsur yang, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas,
pakaian, bangunan, dan karya seni. Bahasa merupakan bagian tak terpisahkan dari
diri manusia sehingga banyak orang cenderung menganggapnya diwariskan secara
genetis. Ketika seseorang berusaha berkomunikasi dengan orang-orang yang
berbeda budaya dan menyesuaikan perbedaan-perbedaannya, membuktikan bahwa
budaya itu dipelajari. Kembali lagi, budaya itu bersifat kompleks, abstrak, dan
luas.
Banyak aspek budaya
turut menentukan perilaku komunikatif. Unsur-unsur sosio-budaya ini tersebar
dan meliputi banyak kegiatan sosial manusia. Citra budaya yang bersifat memaksa
membekali anggota-anggotanya dengan pedoman mengenai perilaku yang layak dan
menetapkan dunia makna dan nilai logis yang dapat dipinjam anggota-anggotanya
yang paling bersahaja untuk memperoleh rasa bermartabat dan pertalian dengan
hidup mereka. Dengan demikian, budayalah yang menyediakan suatu kerangka yang
koheren untuk mengorganisasikan aktivitas seseorang dan memungkinkannya
meramalkan perilaku orang lain.
PENGARUH KEBUDAYAAN TERHADAP PERILAKU KONSUMEN
Pengertian perilaku
konsumen menurut Shiffman dan Kanuk (2000) adalah perilaku yang diperhatikan
konsumen dalam mencari, membeli, menggunakan, mengevaluasi dan mengabaikan
produk, jasa, atau ide yang diharapkan dapat memuaskan konsumen untuk dapat
memuaskan kebutuhannya dengan mengkonsumsi produk atau jasa yang ditawarkan.
Selain itu perilaku
konsumen menurut Loudon dan Della Bitta (1993) adalah proses pengambilan
keputusan dan kegiatan fisik individu-individu yang semuanya ini melibatkan
individu dalam menilai, mendapatkan, menggunakan, atau mengabaikan
barang-barang dan jasa-jasa.
Menurut Ebert dan
Griffin (1995) consumer behavior dijelaskan sebagai upaya konsumen untuk
membuat keputusan tentang suatu produk yang dibeli dan dikonsumsi.
1.
Model
perilaku konsumen
Konsumen mengambil banyak macam
keputusan membeli setiap hari. Kebanyakan perusahaan besar meneliti keputusan
membeli konsumen secara rinci untuk menjawab pertanyaan mengenai apa yang
dibeli konsumen, dimana mereka membeli, bagaimana dan berapa banyak mereka
membeli, serta mengapa mereka membeli.
Perusahaan benar−benar
memahami bagaimana konsumen akan memberi responterhadap sifat-sifat produk,
harga dan daya tarik iklan yang berbeda mempunyai keunggulan besar atas
pesaing.
2.
Faktor
Budaya
Faktor budaya memberikan pengaruh paling
luas dan dalam pada perilaku konsumen. Pengiklan harus mengetahui peranan yang
dimainkan oleh budaya, sub-budaya dan kelas sosial pembeli. Karena budaya
adalah penyebab paling mendasar dari keinginan dan perilaku seseorang. Budaya
merupakan kumpulan nilai-nilai dasar, persepsi, keinginan dan perilaku yang
dipelajari oleh seorang anggota masyarakat dari keluarga dan lembaga penting
lainnya.
Sub-budaya dapat
dibedakan menjadi 4 jenis :
– Kelompok nasionalisme
– Kelompok keagamaan
– Kelompok ras
– Area geografis.
Dengan adanya
kebudayaan, perilaku konsumen mengalami perubahan. Dengan memahami beberapa
bentuk budaya dari masyarakat, dapat membantu pemasar dalam memprediksi
penerimaan konsumen terhadap suatu produk. Pengaruh budaya dapat mempengaruhi
masyarakat secara tidak sadar, karena pengaruh budaya sangat alami dan otomatis
sehingga pengaruhnya terhadap perilaku sering diterima begitu saja.
BUDAYA DAN KONSUMSI
Produk mempunyai
fungsi, bentuk dan arti . Ketika konsumen membeli suatu produk mereka berharap
produk tersebut menjalankan fungsi sesuai harapannya, dan konsumen terus
membelinya hanya bila harapan mereka dapat dipenuhi dengan baik. Namun, bukan
hanya fungsi yang menentukan keberhasilan produk . Produk juga harus memenuhi
harapan tentang norma, misalnya persyaratan nutrisi dalam makanan, crispy
(renyah) untuk makanan yang digoreng,
makanan harus panas untuk ‘steak hot plate’ atau dingin untuk ‘
agar-agar pencuci mulut’.Seringkali produk juga didukung dengan bentuk tertentu
untuk menekankan simbol fungsi seperti ‘ kristal biru’ pada detergen untuk
pakaian menjadi lebih putih. Produk juga memberi simbol makna dalam masyarakat
misal “ bayam” diasosiasikan dengan kekuatan dalam film Popeye atau makanan
juga dapat disimbolkan sebagai hubungan keluarga yang erat sehingga resep turun
temurun keluarga menjadi andalan dalam memasak, misal iklan Sasa atau
Ajinomoto. Produk dapat menjadi simbol dalam masyarakat untuk menjadi ikon
dalam ibadat agama.
Budaya merupakan
sesuatu yang perlu dipelajari, karena konsumen tidak dilahirkan spontan
mengenai nilai atau norma kehidupan sosial mereka, tetapi mereka harus belajar
tentang apa yang diterima dari keluarga dan teman-temannya. Anak menerima nilai
dalam perilaku mereka dari orang tua , guru dan teman-teman di lingkungan
mereka. Namun dengan kemajuan zaman yang sekarang ini banyak produk diarahkan
pada kepraktisan, misal anak-anak sekarang lebih suka makanan siap saji seperti
Chicken Nugget, Sossis, dan lain-lainnya karena kemudahan dalam terutama bagi
wanita yang bekerja dan tidak memiliki waktu banyak untuk mengolah makanan.
Kebudayaan juga
mengimplikasikan sebuah cara hidup yang dipelajari dan diwariskan, misalnya
anak yang dibesarkan dalam nilai budaya di Indonesia harus hormat pada orang
yang lebih tua, makan sambil duduk dsb. Sedangkan di Amerika lebih berorientasi
pada budaya yang mengacu pada nilai-nilai di Amerika seperti kepraktisan,
individualisme, dsb.
Budaya berkembang
karena kita hidup bersama orang lain di masyarakat. Hidup dengan orang lain menimbulkan
kebutuhan untuk menentukan perilaku apa saja yang dapat diterima semua anggota
kelompok. Norma budaya dilandasi oleh nilai-nilai, keyakinan dan sikap yang
dipegang oleh anggota kelompok masyarakat tertentu. Sistem nilai mempunyai
dampak dalam perilaku membeli, misalnya orang yang memperhatikan masalah
kesehatan akan membeli makanan yang tidak mengandung bahan yang merugikan
kesehatannya.
Nilai memberi arah
pengembangan norma, proses yang dijalani dalam mempelajari nilai dan norma
disebut ”sosialisasi atau enkulturasi”. Enkulturasi menyebabkan budaya
masyarakat tertentu akan bergerak dinamis mengikuti perkembangan zaman.
Sebaliknya, bila masyarakat cenderung sulit menerima hal-hal baru dalam
masyarakat dengan mempertahankan budaya lama disebut Accultiration.
Budaya pada gilirannya
akan mempengaruhi pengembangan dalam implikasi pemasaran seperti perencanaan
produk, promosi ,distribusi dan penetapan harga. Untuk mengembangkan strategi
yang efektif pemasar perlu mengidentifikasi aspek-aspek penting kebudayaan dan
memahami bagaimana mereka mempengaruhi konsumen. Sebagaimana strategi dalam
penciptaan ragam produk, segmentasi pasar dan promosi yang dapat disesuaikan
dengan budaya masyarakat.
Beberapa perubahan
pemasaran yag dapat mempengaruhi kebudayaan, seperti :
1.
Tekanan
pada kualitas
2.
Peranan
wanita yang berubah
3.
Perubahan
kehidupan keluarga
4.
Sikap yang
berubah terhadap kerja dan kesenangan
5.
Waktu
senggang yang meningkat
6.
Pembelian
secara impulsif
7.
Hasrat
akan kenyamanan
Sumber:
https://gloriacharlotte.wordpress.com/2015/01/08/pengaruh-kebudayaan-terhadap-pembelian-konsumen/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar